Para ulama salaf (ulama generasi terdahulu)
mengalami perbedaan pendapat mengenai asal usul Lukman al-Hakim apakah ia
seorang nabi ataukah sebatas seorang hamba Allah yang shalih saja. Terhadap
kedua pendapat tersebut kebanyakan para ulama salaf setuju kepada pendapat
kedua. (Ibnu Katsir : 1990 : III : 427).
Jamaal ‘Abdul Rahman mengutip pemaparan Imam
Jalalain (Musthafa Jalalain dan Jalaluddin as-Suyuti) mengenai Lukman yang
diberi gelar al-Hakim sebagai berikut. Lukman al-Hakim adalah seorang lelaki
yang dikaruniai hikmah oleh Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam
firman-Ny, (QS.Luqman [31]:12)
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada
Lukman….” (Al-Qur’an dan Terjemahnya Depag RI : 2005 : 412).
Hikmah yang Allah SWT berikan kepadanya antara lain
berupa ilmu, Agama, benar dalam ucapan, dan kata-kata yang bijaknya cukup
banyak lagi telah dima’tsur. Dia memberi fatwa sebelum Nabi Dawud as diutus dan
sempat menjumpai masanya, lalu menimba ilmu darinya dan (Lukman) meninggalkan
fatwanya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang sikapnya itu, dia menjawab :
“Tidakkah lebih baik bagiku berhenti memberi fatwa bila telah ada yang
menanganinya ?.”
Mujahid mengatakan bahwa Lukman adalah seorang budak
hitam dari Habsyah, tebal kedua bibirnya, dan lebar kedua telapak kakinya. Pada
suatu hari ketika ia sedang duduk di majelis sedang berceramah kepada orang
banyak, datanglah seorang lelaki menemuinnya, lalu bertanya : “Bukankah engkau
tadinya seorang penggembala kambing di tempat anu dan anu?”, Lukman menjawab :
“Benar!” lelaki itu bertanya : “Lalu apakah yang ku lihat sekarang ini?”,
Lukman menjawab : “Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan
urusanku.”
Khalid Ar-Rib’i mengatakan bahwa Lukman adalah
seorang budak Habsyi dan tukang kayu. Pada suatu hari tuannya menyuruhnya :
“Sembelihkanlah buat kami kambing ini” Lukman pun menyembelihnya dan tuannya
berkata : “Keluarkanlah dari dalamnya dua gumpal darah yang terbaik.” Lalu
Lukman mengeluarkan lidah dan hati, Lukman tinggal beberapa lama sebagaimana
yang dikehendaki oleh Allah, lalu tuannya berkata lagi : “Keluarkanlah dari
dalamnya dua gumpal darah yang paling kotor” maka Lukman mengeluarkan lidah dan
hati pula, membuat tuannya bertanya : “Ku perintahkan kamu untuk mengeluarkan
dua gumpal darah yang terbaik dari dalamnya, maka kamu mengeluarkan keduanya,
dan ku perintahkan pula kamu untuk mengeluarkan dua gumpal darah yang terburuk
dari dalamnya ternyata kamu mengeluarkan keduanya pula.” Lukman pun menjawab :
“Sesungguhnya tiada suatu bagian pun yang lebih baik daripada keduanya jika
keduanya buruk.” (Ibnu Katsir : 1990 : III : 427).
Jamaal ‘Abdul Rahman mengutip pemaparan Al-Qurthubi
yang mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, Lukman adalah anak laki-laki
saudara perempuan Nabi Ayyub as yang menikah dengan anak laki-laki adik
perempuan ibunya.
Pernah ada seorang lelaki yang memandanginya, maka
Lukman berkata : “Jika engkau lihat aku mempunyai sepasang bibir yang tebal
lagi kasar, maka sesungguhnya di antara keduanya keluar kata-kata yang lembut,
dan jika engkau melihat rupaku hitam, maka sesungguhnya kalbuku putih.” (Jamaal
‘Abdul Rahman : 2005 : 338).
Sebuah Kisah Lukmanul Hakim Beserta anaknya yaitu
ketika Lukman mengajak anaknya untuk menunggangi seekor keledai mengelilingi
suatu kota. Pada suatu hari Lukman bermaksud untuk memberi nasihat kepada
anaknya maka ia pun membawa anaknya menuju suatu kota dengan menggiring seekor
keledai ikut berjalan bersamanya. Ketika Lukman dan anaknya lewat kepada
seorang lelaki, maka ia berkata kepada keduanya : “Aku sungguh heran kepada
kalian, mengapa keledai yang kalian bawa tidak kalian tunggangi ?” setelah
mendengar perkataan lelaki tersebut Lukman lantas menunggangi keledainya dan
anaknya mengikutinya sambil berjalan.
Belum berselang lama, dua perempuan menatap heran kepada
Lukman seraya berkata : “Wahai orang tua yang sombong!. Engkau seenaknya
menunggangi keledai sementara engkau biarkan anakmu berlari di belakangmu bagai
seorang hamba sahaya yang hina!.” Maka Lukman pun membonceng anaknya
menunggangi keledai.
Kemudian Lukman beserta anaknya yang ia bonceng
melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul di pinggir jalan, ketika mereka
melihat Lukman dan anaknya seorang dari mereka berkata : “Lihatlah! Lihatlah!
Dua orang yang kuat ini sungguh tega menunggangi seekor keledai yang begitu
lemah, seolah keduanya menginginkan keledainya mati dengan perlahan.” Mendengar
ucapan itu Lukman pun turun dari keledainya dan membiarkan anaknya tetap di
atas keledai.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan hingga
bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu kemudian berkata kepada
anaknya Lukman : “Engkau sungguh lancang! Engkau tidak malu menunggangi keledai
itu sementara orang tuamu engkau biarkan merangkak di belakangmu seolah ia
adalah pelayanmu!.”
Maka ucapan lelaki tua itu begitu membekas pada
benak anaknya Lukman, ia pun bertanya pada ayahnya : “Apakah yang seharusnya
kita perbuat hingga semua orang dapat ridla dengan apa yang kita lakukan dan
kita bisa selamat dari cacian mereka?” Lukman menjawab : “Wahai anakku, sesungguhnya
aku mengajakmu melakukan perjalanan ini adalah bermaksud untuk menasihatimu,
ketahuilah bahwa kita tidak mungkin menjadikan seluruh manusia ridla kepada
perbuatan kita, juga kita tidak akan selamat sepenuhnya dari cacian karena
manusia memiliki akal yang berbeda-beda dan sudut pandang yang tidak sama, maka
orang yang berakal ia akan berbuat untuk menyempurnakan kewajibannya dengan
tanpa menghiraukan perkataan orang lain.” (Lafif min’l-Asatidzah : tt :
135-136).
Demikianlah gambaran singkat tentang kepribadian
Lukman yang dengan kebijaksanaan-kebijaksanaannya itu ia diberi gelar al-Hakim.
Tidak heran bila kemudian Allah SWT mengangkat derajatnya dengan memasukan
namanya pada al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.
10
Nasihat Lukmanul Hakim kepada Anaknya
Berdasarkan al-Qur’an surat Luqman ayat 13, 16, 17,
18, dan 19 penulis berpandangan bahwa pada ayat-ayat tersebut terdapat sepuluh
Nasihat Lukmanul Hakim kepada anaknya. Adapun sepuluh nasihat tersebut adalah
sebagai berikut,
1.
Nasihat Agar Tidak Musyrik kepada Allah SWT
Disebutkan kisahnya oleh firman Allah SWT,
(QS.Luqman : 13)
Artinya : “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar”. (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 :
412).
Lukman berpesan kepada anaknya sebagai orang yang
paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari
pengetahuannya. Oleh karena itulah, Lukman dalam nasihat pertamanya berpesan
agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
pun seraya memperingatkan kepadanya : (QS.Luqman [31]: 13)
Artinya:“…Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar….” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI :
2005 : 412).
Yakni syirik adalah dosa yang paling besar.
Sehubungan dengan hal ini, Bukhari telah meriwayatkan hadits melalui ‘Abdullah
ibn Mas’ud ra,
قال البخاري حدثنا قتيبة، حدثنا جرير، عن الأعمش، عن إبراهيم،
عن علقمة ،عن عبد الله، رضي الله عنه، قال: لما نزلت: الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا
إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ، شق ذلك على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقالوا: أينا
لم يَلْبس إيمانه بظلم؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إنه ليس بذاك، ألا تسمع
إلى قول لقمان: يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : “Al-Bukhari berkata, telah menerangkan
kepada kami Qutaibah, (kata Qutaibah) telah menerangkan kepada kami Jarir, dari
al-A’masy, dari Ibrahim, dari ’Alqamah, dari ‘Abdullah ibn Mas’ud ra ia
berkata, Ketika turun ayat : ‘Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,’ hal itu sangatlah memberatkan
para sahabat, mereka berkata, ‘Siapakah diantara kami yang tidak mencampuradukkan
keimanannya dengan kedzaliman?.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya
bukanlah demikian (pengertiannya seperti yang kalian katakan), tidakkah kalian
pernah mendengar ucapan Lukman: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar.‘” (Bukhari jilid II : 1995 : 287).
Syirik di sini diungkapkan dengan perbuatan zalim.
Mereka mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman, yakni dengan
kemusyrikan.
Selanjutnya, Lukman mengiringinya dengan pesan lain,
yaitu agar anaknya menyembah Allah SWT semata dan berbakti kepada kedua orang
tua sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, (QS.al-Isra [17]: 23)
Artinya : “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Qur’an
dan Terjemah Depag RI : 2005 : 284).
Dan memang Allah SWT sering menggandengkan keduanya
dalam al-Qur’an. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).
Penulis tidak memasukkan ayat 14 dan 15 dari Qur’an
surat Luqman sebagai wasiat Lukman al-Hakim kepada anaknya karena memperhatikan
tekstual ayat tersebut tidak menggambarkan bahwa ayat tersebut adalah ucapan
Lukam kepada anaknya, walau demikian tetap kedua ayat tersebut menjadi nasihat
bagi anak dari Lukman al-Hakim dan anak dari orang tua muslim lainnya.
Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 14-15)
Artinya : “ Dan kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah
kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan
orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka
Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Al-Qur’an dan Terjemah
Depag RI : 2005 : 412).
2.
Nasihat Agar Memegang Teguh Ketauhidan
Disebutkan oleh firman-Nya, (QS.Luqman : 16)
Artinya : “(Luqman berkata): “Hai anakku,
Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam
batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-Qur’an
dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Seandainya amal sekecil dzarrah (biji kecil) itu
dibentengi dan ditutupi berada dalam batu besar yang membisu atau hilang dan
lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah SWT pasti akan
membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah pasti akan membalasnya.
Demikianlah karena sesungguhnya Allah, tiada sesuatu pun yang tersembunyi
bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada di langit maupun di bumi,
terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah disebutkan oleh firman-Nya,
(QS.Luqman [31]:13)
Artinya : “Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga
segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya.
Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di
kegelapan malam yang sangat pekat. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).
Jamaal ‘Abdul Rahman mengutip pemaparan al-Qurthubi,
diceritakan bahwa anak Lukman al-Hakim bertanya kepada ayahnya tentang sebutir
biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Lukman
menjawabnya dengan mengulangi jawaban semula yang disebutkan dalam
firman-Nya,(QS.Luqman [31]: 16)
Artinya : “(Luqman berkata): “Hai anakku,
Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam
batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-Qur’an
dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).(Jamaal ‘Abdul Rahman : 2005 : 341-342).
3.
Nasihat Agar Mendirikan Shalat
Lukman al-Hakim terus-menerus memberikan pengarahan
kepada anaknya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan oleh firman-Nya,
(QS.31:17)
Artinya : “Hai anakku, Dirikanlah shalat….”
(Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
‘Aqimish-shalaata, dirikanlah shalat, lengkap dengan
batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. (Ibnu Katsir jilid III :
1990 : 430). 4. Nasihat Agar Memiliki Keberanian Memerintah kepada Kebaikan
Pesan Lukman al-Hakim yang keempat adalah agar anaknya memiliki keberanian
untuk memerintah manusia untuk berbuat baik. Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]:
17)
Artinya : “…dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang
baik….” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
5.
Nasihat Agar Memiliki Keberanian Mencegah Kemungkaran
Pesan Lukman al-Hakim yang kelima adalah agar
anaknya memiliki keberanian untuk mencegah orang-orang yang berada di
sekitarnya berbuat kemungkaran. Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 17)
Artinya :“…dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
mungkar….” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Terhadap pesan Lukman al-Hakim yang keempat dan
kelima kepada anaknya di atas, Ibnu Katsir memberikan keterangan, Wa’mur
bi’l-ma’ruufi wanha ‘ani’l-mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan
cegahlah perkara yang munkar menurut batas kemampuan dan jerih payahmu. (Ibnu
Katsir jilid III : 1990 : 430).
6.
Nasihat Agar Bersabar Terhadap Musibah yang Menimpa
Pesan Lukman al-Hakim yang keenam adalah agar
anaknya bersabar terhadap musibah yang menimpa. Firman Allah SWT, (QS.Luqman
[31]: 17)
Artinya : “…dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).”(Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Karena sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma’ruf
dan nahyi mungkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh
karena itulah, dalam pesan selanjutnya Lukman memerintahkan kepada anaknya
untuk bersabar.
Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 17)
Artinya : “… Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005
: 412).
Yakni bersikap sabar dalam memhhadapi gangguan
manusia termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Ibnu Katsir jilid III
: 1990 : 430).
Menurut pendapat lain, Lukman memerintahkan kepada
anaknya bersabar dalam menghadapi berbagai macam kesulitan hidup di dunia,
seperti berbagai macam penyakit dan sebagainya, dan tidak sampai ketidak
sabarannya menghadapi hal tersebut akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan durhaka
terhadap Allah SWT. pendapat ini cukup baik karena pengertiannya bersifat
menyeluruh. Demikianlah menurut al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya. Menurut
makna lahiriahnya, hanya Allah yang lebih mengetahui, bahwa firman-Nya,
(QS.Luqman [31]: 17)
Artinya : “… Sesungguhnya yang demikian itu….”
(Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Isyarat yang terkandung di dalamnya menuunjukan
kepada sikap mengerjakan shalat, menunaikan amaar ma’ruf dan nahyi mungkar,
serta bersabar menghadapi ganguan dan musibah, semuanya termasuk hal-hal yang
diwajibkan oleh Allah SWT. (Jamaal ‘Abdul Rahman : 2005 : 342-343).
7.
Nasihat Agar Tidak Bersikap Sombong terhadap Orang Lain
Pesan Lukman al-Hakim yang ketujuh adalah agar
anaknya jangan memalingkan muka dari manusia karena sombong, merasa diri paling
tinggi derajatnya dari orang lain. Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 18)
Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu
dari manusia (karena sombong)….” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 :
412).
Ash-Sha’r artinya berpaling. Makna asalnya adalah
suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga
persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengan
seorang lelaki yang bersikap sombong. (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).
Ibnu Abbas ra menafsirkan firman Allah SWT, “Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)….” yakni
janganlah engkau bersikap sombong dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan
memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara denganmu. (Ath-Thabari
jilid XXI : 1988 : 74).
Makna yang dimaksud ialah hadapkanlah wajahmu ke
arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang
paling muda di antara mereka berbicara denganmu, dengarkanlah ucapannya sampai
dia menghentikan penbicaraannya. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad
SAW. (Jamaal ‘Abdul Rahman : 2005 : 344).
8.
Nasihat Agar Tidak Angkuh dalam Menjalani Hidup
Pesan Lukman al-Hakim yang kedelapan adalah agar
anaknya tidak angkuh dalam menjalani hidup. Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]:
18)
Artinya : “…dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Berjalan di muka bumi dengan angkuh, ialah cara
berjalan dengan langkah yang angkuh dan sombong dan enggan untuk bercampur gaul
dengan orang lain (disebabkan kesombongannya itu). Cara berjalan yang maupun
Khalik (Allah SWT) atapun makhluk (manusia) sama-sama tidak menyukainya. Cara berjalan
yang sombong adalah indikasi akan lupa dirinya seorang hamba kepada Dzat Allah
SWT (yang hanya Dia yang berhak untuk sombong). (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).
Manusia menjalani hidup diantaranya dengan berjalan
menelusuri relung-relung kehidupan setiap harinya. Lukman al-Hakim mengajarkan
kepada anaknya untuk tetap tawadlu’ (rendah hati) dan tidak takabbur (sombong)
diantanya dengan menekankan agar dalam cara berjalan tidak berjalan dengan
angkuh dan sombong.
9.
Nasihat Agar Menyederhanakan Cara Berjalan
Pesan Lukman al-Hakim yang kesembilan adalah agar
anaknya menyederhanakan cara berjalan. Nasihat kesembilan ini berserta nasihat
ketujuh, kedelapan dan kesepuluh adalah sama-sama menekankan untuk tidak
berlaku sombong dan menanamkan sifat tawadlu’ kepada anak.
Setelah Lukman al-Hakim memperingatkan anaknya agar
waspada terhadap akhlaq yang tercela dengan nasihat ketujuh dan kedelapannya,
dia lalu menggambarkan kepadanya akhlaq mulia yang harus dikenakannya. Firman
Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 19)
Artinya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan….”
(Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
Waqsid fii masyika, Yakni berjalanlah dengan cara
jalan yang pertengahan, tidak dengan langkah yang lambat dan tidak pula dengan
langkah yang terlalu cepat, namun dengan langkah yang pertengahan antara lambat
dan cepat. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).
Nasihat Lukman al-Hakim yang kesembilan ini adalah
sesuai dengan salah satu sifat ‘Ibaadu’r-Rahmaan (hamba-hamba yang baik dari
Tuhan yang Maha Penyayang). Firman Allah SWT, (QS.al-Furqan [25]: 63)
Artinya : “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang
itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 365).
10.
Nasihat Agar Melunakkan Suara
Nasihat Lukman yang terakhir kepada anaknya yang
terdapat dalam Qur’an surat Luqman adalah agar anaknya melunakkan suara dalam
berbicara dengan orang lain. Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 19)
Artinya : “…Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI :
2005 : 412).
Menurut Ibnu abbas ra, waghdud min shautik, yakni
rendahkanlah suarmu dan janganlah bersuara dengan keras (tanpa alasan yang
baik). (Al-Fairuzabadi : tt : 345).
Menurut al-Maraghi, waghdud min shautik, yakni
kurangilah dari nada suara dan ringkaslah dalam berbicara, dan janganlah
meninggikan suaramu ketika tidak ada keperluan apapun untuk meninggikannya,
karena hal itu adalah tindakan yang dipaksakan oleh yang berbicara dan dapat
mengganggu diri dan pemahaman orang lain. (Al-Maraghi : 1974 : 86).

