Mustajabnya Doa Seorang Ibu Saat Sakaratul Maut Menjemput | ADDY SUMOHARJO BLOG

Mustajabnya Doa Seorang Ibu Saat Sakaratul Maut Menjemput

BUKAN mustahil kalau ada begitu banyak orang sukses di seluruh dunia karena memiliki hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya, terutama kepada ibu. Mengapa? Karena kesenangan Allah adalah kesenangan orang tua, dan doa ibu itu benar-benar tanpa hijab dihadapan Allah dengan mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang dia doakan untuk anaknya mungkin sangat mudah bagi Tuhan untuk mengabulkannya.

Kisah Alqamah bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu melayani orang tua kita. Alqamah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad, yang taat, wara' kuat dalam ibadah dan juga rajin memberi. Ibunya masih hidup; rupanya dia ini setelah berumah tangga, kurang memperhatikan ibunya.

Karena itu, terpaksalah sang Ibu mondok sendirian, dan hal ini berlalu beberapa lama, sedang sang ibu belum juga mendapat santunannya menurut semestinya. Maka akibat dari pada itu, sang ibunda beliau agak kecewa dan berhati kecil terhadap anaknya ‘Alqamah yang kurang memperhatikan dirinya itu.

Akhirnya pada suatu hari, ‘Alqamah jatuh sakit keras sehingga sanak saudara kaum familinya telah memenuhi rumahnya. Hanya Ibunya yang belum hadir. Sementara Alqamah dalam keadaan sakaratul maut, maka di antara yang hadir menalqinkan kalimat tauhid; LA ILAAHA ILLALLAH. Namun beliau tidak dapat mengikutinya, dan hal itu di ulang berkali-kali, namun ‘Alqamah belum juga dapat menirukannya, malah mulutnya tertutup dan ia membungkam seribu bahasa, hanya kelihatan susah dan gelisah dengan matanya yang membelalak kemabukan, seakan-akan ia minta tolong.

Semua sahabat handai tolannya keheran-heranan, sebab mereka tahu benar bahwa ‘Alqamah ini seorang sahabat Nabi yang taat dan wara’, dan menurut mereka ia adalah teladan yang baik dicontoh selama hayatnya. Maka dari itu merekapun bingung sambil saling berbisik-bisik tanya menanya, mengapa beliau ini demikian, padahal ia adalah seorang sahabat Nabi yang shaleh.

Sementara itu, sebahagian sahabat yang hadir segera melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah SAW., dan baginda mengutus beberapa sahabat pula untuk menjenguk ‘Alqamah dan melihat keadaan ‘Alqamah dari dekat, serta mencoba menalqinkan kalimat TAUHID lagi. Namun sesampainya mereka ditempat pembaringan Alqamah dan setekah mencoba menalqinkan kalimah Tauhid itu, perobahan Alqamah tidak ada sama sekali, malah nampaknya tambah gelisah dan tambah menakutkan pula.

Akhirnya dijemputlah Rasulullah SAW., dan beliaupun hadir di depan ‘Alqamah sahabat beliau yang setia itu. Dengan hati yang cemas penuh kasih sayang, Baginda menalqinkan kalimah tauhid, tetapi sayang seribu sayang ‘Alqamah dari pada mengikut, malah ia menggelengkan kepalanya. 

Nabipun tertegun dan kemudian menayakan pada hadirin, “Apakah Alqamah ini masih mempunyai Ibu kandung?” Hadirin ada yang menjawab “Masih ada”. Kemudian Beliau bertanya, “Di mana Ibu itu?” Istrinya menjawab, “Di sana, di dusun itu. Dia mondok sendirian, ya Rasulullah.”

Maka Rasulullah minta hadirkan Ibundanya itu. Setelah tiba, Nabi pun lalu menanyakan kepadanya tentang hal ihwal Alqamah.

Dalam dialog itu ternyata sang Ibu ini ada berkecil hati atas sebahagian tindakan anaknya ini pada dirinya, setelah ia berumah tangga dan sampai detik ini, ia belum suka memaafkannya, meskipun Nabi sendiri telah memintanya.

Maka Nabi kita akhirnya memerintah para sahabat dan hadirin untuk mengumpulkan kayu api unggun dan minyaknya, tatkala itu sebahagian bertanya, buat apa ya Rasulullah, nabi menjawab dengan nada tegas : “Untuk membakar Alqamah ini, sebab lebih baik kita bakar sekarang saja bulat bulat dari pada kelak dibakar juga dalam api neraka jahannam.”

Mendengar putusan Nabi itu, Ibu kandung Alqamah tidak tega, bila anak kandungnya itu sampai dipanggang di matanya sendiri. Dari itu ia segera mendapatkan Nabi dan berkata “Wahai junjungan alam, janganlah dibakar anakku ini, biarlah kumaafkan segala kesalahannya itu dan aku relakan segala pengorbananku untuknya”. 

Sembari ia naik saksi bahwa : “Aku mengakui bahwa tiada Tuhan selain dari pada Allah, dan aku mengakui bahwa Muhammad benar benar Rasul-Nya”. Dan untuk hadirin aku bersaksi bahwa benar benar anakku Alqamah ini, segala kesalahannya telah kumaafkan dan telah kurelakan.

Saat itu Nabi menyuruh sahabat untuk melihat Alqamah, ternyata sedang menarik nafasnya yang terakhir sambil mengucapkan kalimat tauhid, dengan muka yang jernih dan mata yang sayu memandang dengan bibir yang tersenyum tersungging di bibir itu kalimat Thaiyibah : “LA ILAAHA ILLALLAH”

Ia kembali dengan tenang dan wajah berseri seri. “INNA LILLAHI WA INNA ILAHI RAJIUN” Alqamah telah kembali ke Rahmatullah dengan tenang.

Banyak dari kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tetapi kita tidak pernah berpikir bahwa mungkin hampir setiap malam ibu kita dalam kesunyian sepertiga malam terbangun untuk doa tengah malam, berdoa agar kita meneteskan air mata untuk kesuksesan. dunia dan akhirat.

Mungkin suatu malam dia pernah datang kepada kita sambil tidur dan berkata dengan berbisik "Nak, maafkan ibu ya ... ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu" kita mungkin juga lupa ketika kondisi ekonomi rumah tangga tidak baik, ibu rela tidak makan sehingga jatah makan bisa dimakan oleh anaknya. Ketika kami masih kecil, ibu-ibu mengira mereka mau tidur dan lantai dan tanpa selimut, jadi kami bisa tidur dengan nyaman di kasur dengan selimut hangat.


Setelah semua pengorbanan dilakukan oleh ibu kita sejauh ini, lalu coba renungkan apa yang telah kita lakukan sejauh ini untuk ibu kita? Kapan terakhir kali kita berbuat dosa untuknya? Kapan terakhir kali kamu berteriak padanya? Tidak heran kami meneriaki ibu kami yang selama sembilan bulan mengandung dengan rasa sakit yang hebat? Karena itu, cobalah untuk berbakti kepada orang tua Anda, terutama kepada ibu Anda. Karena masa depan kita adalah dalam desahan doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita hari ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.

Related Posts